Kamis, 30 Desember 2010
Hewan Invertebrata
1. Pengertian
Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.
2. Filum-filum hewan invertebrate
a. Filum frotozoa
Frotozoa merupakan hewan bersel satu yang hidup di dalam air, protozoa memakan tumbuhan dan hewan, frotozoa berkembang biak secara reproduksi unseksual atau vegetatif dengan cara membelah diri dan dengan cara seksuan / generatif konjugasi.
Filum frotozoa terbagi menjadi beberapa kelas:
1. Kelas hewan berambut getar (cikata)
2. Kelas hewan berkaki semu (rhizopoda)
3. Kelas hewan berspora (sporozoa)
4. Kelas hewan berbulu cambuk (flogellato)
b. Filum forifera (hewan berfori)
Forifera merupakan hewan air dan hidup di laut bentuk tubuh seperti tumbuhan yang melekat pada suatu dasar laut, jadi forifera dapat berpindah tempat dengan bebas, tubuh forifera seperti tabung yang memiliki banyak pori (lubang kecil pada sisinya dan mempunyai rongga di bagian dalam) forifera dapat berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif.
Forifera terdiri dari tiga kelas :
Read More......
Forifera terdiri dari tiga kelas :
1. Kelas corcorea
Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal, contoh;
Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal, contoh;
seghpha SP, charsarina SP
2. Kelas hexactinelida
Terdiri atas zat kersik dan hidup di laut yang dalam. Contohnya pnerorepa SP
3. Kelas demospangia
Tubuh lunak bahkan tidak mempunyai rangka, contoh spongia SP
c. Filum coelentrata (hewan berongga)
Coelentrata berasal dari kata coilos (berongga) dan entron (usus) coelentrata mempunyai dua macam bentuk yakni bentuk pasif yang menempel pada suatu dasar dan tidak berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3 kelas;
1. Kelas anthozoa.
2. Kelas hydrozoa
3. Kelas scyphozoan
d. Filum platyhelminthes (cacing pipih)
Kata platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, kata plays (pipih) dan hemlines (cacing). Platyhelminthes adalah yang mempunyai pipih. Hewan golongan ini mempunyai tubuh simetris bilateral, (kedua sisi sama), tubuh lunak dan tidak bersegmen (ruas) tetapi tidak mempunyai peredaran darah.
Platyhelminthes terbagi ke dalam tiga kelas yaitu:
1. Kelas turbellaria (cacing berambut getar)
2. Kelas trematoda (cacing isap)
3. Kelas cestroda (cacing pita)
e. Filum Mollusca (hewan lunak)
Sesuai dengan namanya, hewan lunak mempunyai tubuh lunak yang dilindungi oleh cangkang dari bahan kalsium (kapur) mollusca bersifat hermoporit, mempunyai sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem pengeluaran
Mollusca dibedakan menjadi 4 kelas;
Mollusca dibedakan menjadi 4 kelas;
1. Kelas lamilli brancuiata (golongan karang dan tiram)
2. Kelas gastropoda (golongan siput)
3. Kelas cephalopoda (golongan cumi-cumi)
4. Kelas amphineura
f. Filum enchinodermata (hewan berkulit duri)
Kata di atas berasal dari bahasa Yunani echimos (landak) dan derma (kulit) semua hewan yang termasuk filum echinodermata biasanya hidup di laut, bentuk tubuhnya simetris radial (sisi tubuh melingkar sama). Mempunyai sistem ameudakral (sistem pompa air). Rangka dalam berkapur dan memiliki banyak duri yang menonjol. Daya generasinya amat besar.
Kata di atas berasal dari bahasa Yunani echimos (landak) dan derma (kulit) semua hewan yang termasuk filum echinodermata biasanya hidup di laut, bentuk tubuhnya simetris radial (sisi tubuh melingkar sama). Mempunyai sistem ameudakral (sistem pompa air). Rangka dalam berkapur dan memiliki banyak duri yang menonjol. Daya generasinya amat besar.
Filum enchinodermata terdiri dari 5 kelas yaitu:
1. Kelas bintang laut (asteroidal)
2. Kelas landak laut (echinoidal)
3. Kelas bintang laut (opiuroidal)
4. Kelas lilin laut (crinoidal)
5. Kelas teripang (holothuroidae)
g. Filum antropoda
Filum ini mempunyai Jumlah species yang paling besar dibandingkan filum-filum lain. Tubuh dan kaki beruasa-ruas dan simetris bilateral, rangka luar mengandung zat kimia. Antropoda mempunyai peredaran darah, tetapi darahnya tidak berwarna, pertumbuhannya lama mengalami metamorfosis (perubahan bentuk).
Filum antropoda terdiri atas :
1. Kelas serangga (insecta)
2. Kelas laba-laba (arachoidae)
3. Kelas udang-udangan (erustacea)
4. Kelas lipan (mynapoda)
3. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata
a. Sistem pencernaan pada hewan protozoa
Misalnya pada amoeba merupakan hewan bersel satu segala aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Demikian juga pencernaan makanan terjadi di dalam sel, disebut pencernaan indra sel.
Pada waktu amoeba mendapatkan makanan segera amoeba membentuk kaki semu yang mengarah kepada makanan selanjutnya dikelilingi kaki semu kemudian makanan tersebut dibawa ke protoplasma. Dalam protoplasma yang mengandung makanan yang menghasilkan enzim pencernaan. Dalam rongga makanan tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang telah dicerna yang berupa sari makanan diserap dari sisa-sisa makanan dan dikeluarkan dari dalam tubuh.
b. Sistem pencernaan pada golongan hermes
Misalnya pada cacing tanah mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, tembolok, empedal, usus dan anus.
Bagian depan kerongkongan agak membesar disebut paring yang berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir. Makanan cacing tanah berupa humus yang terdapat di tanah yang bersifat asam, dikelilingi kerongkongan terhadap tiga pasang kelenjar yang menghasilkan zat kapur yang dapat menetralkan sifat asam makanannya.
Bagian depan kerongkongan agak membesar disebut paring yang berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir. Makanan cacing tanah berupa humus yang terdapat di tanah yang bersifat asam, dikelilingi kerongkongan terhadap tiga pasang kelenjar yang menghasilkan zat kapur yang dapat menetralkan sifat asam makanannya.
c. Sistem pencernaan pada hewan insecta
Serangga misalnya belalang mempunyai tembolok berfungsi untuk menyimpan makanan sementara di sebelah bawah tembolok terdapat kelenjar ludah yang menghasilkan ludah. Ludah tersebut dialirkan melalui saluran induk ke dalam rongga mulut. Dari tembolok makanan masuk ke dalam empedal dan dalam empedal makanan dihancurkan, selanjutnya makanan diteruskan ke dalam lambung. Di bagian depan lambung terdapat enam pasang usus buntu yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak dicerna diserap di dalam lambung. Sisa-sisa makanan dari usus melalui peletum dikeluarkan melalui anus.
Selasa, 28 Desember 2010
KONSEP DASAR EVALUASI HASIL BELAJAR
Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.
Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.
Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior”
Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules”
Senin, 27 Desember 2010
PENGEMBANGAN RENCANA PEMBELAJARAN
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Komponen tersebut adalah tujuan, materi, dan evaluasi. Dari keempat komponen pembelajaran itu, tujuan dijadikan fokus utama pengembangan, artinya ketiga komponen lainnnya harus dikembangkan dengan mengacu pada komponen tujuan.
Berkaitan dengan pengembangan rencana pembelajaran, modul ini akan mengantarkan Anda untuk memahami berbagai hal yang terkait dengan hakikat kurikulum, hakikat pembelajaran, hubungan antara kurikulum dan pembelajaran, pengertian dan karakteristik rencana pembelajaran , dan model-model yang dapat digunakan untuk mengembangkan rencana pembelajaran, yang akan dapat digunakan untuk mengembangkan rencana pembelajaran, yang akan dipaparkan pada Kegiatan Belajar 1. Sedangkan langkah-langkah umum pengembangan rencana pembelajaran, dan kasus-kasus yang terkait akan dipaparkan pada Kegiatan Belajar 2.
Secara spesifik setelah anda mempelajari modul ini diharapkan dapat:
- Menjelaskan hubungan kurikulum dan pembelajaran;
- Menjelaskan model-model pengembangan rencana pembelajaran;
- Menjelaskan hakikat rencana pembelajaran;
- Menjelaskan langkah-langkah umum pengembangan rencana pembelajaran;
- Memilih format rencana pembelajaran;
- Mengindentifikasi kasus-kasus dalam pengembangan rencana pembelajaran.
Untuk membantu Anda mencapai tujuan-tujuan tersebut, pada modul ini akan dibahas hal-hal sebagai berikut:
- Hubungan kurikulum dan pembelajaran.
- Pengertian rencana pembelajaran.
- Karakteristik rencana pembelajaran.
- Model-model pengembangan rencana pembelajaran.
- Langkah-langkah umum pengembangan rencana pembelajaran.
- Format rencana pembelajaran.
- Kasus-kasus dalam pengembangan rencana pembelajaran,
Agar Anda dapat mencapai hasil yang diharapkan, ada beberapa petunjuk yang perlu Anda pahamidengan baik, yaitu sebagai berikut.
- 1.Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini agar Anda dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan dan apa yang akan dipaparkan selanjutnya.
- Baca sepintas sebagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci (key words) dan kata-kata yang dianggap baru (new vocabularies). Kemudian, carilah pengertian dari kata-kata kunci dan kata-kata baru tersebut, baik melalui paparan modul ini maupun dari kamus.
- Pahami berbagai konsep, bagian demi bagian yang dipaparkan dalam modul ini, baik melalui kegiatan belajar mandiri maupun diskusi dengan mahasiswa lain.
- Sebagai bahan pengayaan dan untuk menambah wawasan, usahakanlah mempelajari sumber-sumber lainnya yang relevan.
- Setelah itu, ujilah kemampuan Anda dengan mencoba menjawab soal-soal yang telah disediakan, kemudian ukurlah tingkat pemahaman Anda dengan mencocokan jawaban dan menghitungnya dengan mengunakan rumus yang telah disediakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

